Silent Love Bagian 3

Ditto duduk di kursi kayu tepat di teras rumah Dinda. Pandangannya tampak kosong dan tidak bergairah. Belum pernah Dito merasa selemah ini. Entah kenapa, cowok bodoh seperti Tari sanggup membuatnya jatuh cinta.

Semenjak perkenalannya dengan tari di awal semester, ketika Dinda mengenalkan Tari padanya, Dito mulai tertarik kepada Tari. Gadis berlesung waktu itu tampak sangat polos. Wajahnya selalu dipenuhi keceriaan. Kemanapun mereka selalu pergi bersama. Dan ada satu hal yang membuat Dito semakin jatuh cinta pada gadis itu. Setiap kali Dito bercerita, gadis itu selalu memposisikan diri menjadi pendengar yang baik. Tari tampak selalu mengerti apa yang dirasakan oleh Dito. Semua nasihat-nasihat tari dan perhatian kecilnya tersulap menjadi cinta yang mekar pelan-pelan di hati Dito.

Sayangnya, semua ini seolah terlambat. Waktu tak pernah member kode kepada Dito untuk segera menyatakan cinta. Alhasil, ia harus lebih dulu patah hati setelah tahu bahwa Tari malah jadian dengan Rio.

Ditto menggigit bibir bawahnya. Tampak seperti menahan perih. Dinda mengelus punggung tangan sahabatnya itu. Ia hanya bisa mendengar desahan napas Dito yang sedikit tersengal.

“Ternyata patah hati rasanya sakit banget ya, Din.” Suara Dito memecah keheningan.
Dinda melepaskan tangannya dan kali ini bersandar di kursinya.
“Ya begitulah, Dit. Sakitnya bikin ngga mood melakukan apapun.” Sahut Dinda sembari tersenyum sedih. Ia sebenarnya begitu kasihan melihat Dito yang tampak lemah ini. Ternyata patah hati juga bisa menyulap pria yang tegap dan garang menjadi tampak lebih lembek dan ngga bertenanga.
“Sekarang aku kehilangan gadis bodoh itu, Din.” Sesal Dito yang membuat Dinda tak bisa berkata-kata. “Aku mungkin akan lebih kuat ketika kehilangan si bodoh itu, dan si bodoh pergi dengan cowok lain selain si Rio.”
Dinda mengangguk. Mengerti akan apa yang dimaksud oleh Dito. “Dari awal aku sudah mengingatkan Tari. Tapi, tari tetap yakin dengan pilihannya, Dit.”
“Dia sudah terlanjur buta, Din. Kamu mau ingetin dia dengan cara apapun, Tari tetap pada penilaiannya. Dia menganggap Rio sempurna untuknya.” Kata Dito dengan nada sedikit mengejek. Ia tak tahu, bagaimana lagi harus menyembuhkan patah hatinya.
“Seandainya dari awal kamu sudah memberitahuku bahwa kamu mencintai Tari, pasti aku akan membantumu, Dit.” Nada suara Dinda tampak menyesal. “kamu selama ini ngga pernah bilang.”
“Aku ingin dia tahu dengan sendirinya bahwa aku mencintainya, Din.”
“kamu pikir dia dukun? Yang bisa tahu begitu saja apa yang kamu mau tanpa kamu bilang?” omel Dinda tampak kesal. Ia mendesis dan menghempaskan kembali tubuhnya di punggung kursi.
Ditto tertawa sedih. Seperti menertawakan dirinya sendiri. Menertawakan kekalahannya karena tak bisa mendapatkan hati Tari.

Rio membuka galeri foto di hapenya. Ia memperhatikan foto-fotonya dengan tari. Betapa perempuan ini sebenarnya sangat istimewa baginya. Rio merasa bahwa Tari adalah sosok yang tepat yang ia cari. Hanya saja, ia tidak bisa meninggalkan kebiasaannya yang terus menerus bersenang-senang dengan cewek lain di luar sana. Ia benar-benar tak ingin Tari tahu tentang kelakuannya itu. Ia tak ingin membuat Tari sedih.

Banyak wanita yang sudah Rio dekati. Banyak wanita yang mengincarnya untuk dijadikan kekasih. Tapi Rio tidak tertarik sama sekali selain untuk bersenang-senang semata. Ia lebih memilih berada di smaping Tari setiap kali ia merasa jenuh. Sejauh apapun ia berpetualang di luar sana. Kepada Tarilah Rio sadar, bahwa ia harus pulang. Berada di samping Tari, membuatnya menemukan banyak ketenangan. Sentuhan tangan Tari yang lembut, tutur katanya yang halus, keceriaannya dan kasih sayangnya kepada Rio sungguh tulus. Rio benar-benar tak bisa berkutik.

Kadangkala Rio menyesali, sampai sejauh ini belum bisa melepaskan diri dari cewek-cewek yang selalu memintanya untuk menemani mereka. Masa lalunya itu tidak bisa ia lepaskan begitu saja, meski ia menemukan rumah kembali yang begitu nyaman.

Rio memutar hapenya setelah puas menikmati foto-foto Tari yang tersimpan di hapenya. Malam ini, ia benar-benar kangen dengan kekasihnya itu. Rio bangkit dari kursinya dan meraih jaket dalam sekali tarikan. Rio bergegas memacu motornya dan meluncur ke rumah Tari.

Rio menghentikan motornya di sebuah rumah berlantai dua di kompleks perumahan tengah kota Surabaya. Ia mendongakkan kepalanya ke atas, lalu mencoba menelpon seseorang.

“hai, pergilah ke jendela kamarmu.” Kata Rio ketika seseorang mengangkat teleponnya sembari tetap menatap jendela kamar Tari.

Jendela yang semula tertutup itu kini terbuka. Tampak seorang gadis muncul dengan wajah sumringah. “Tunggu sebentar ya, aku akan turun.” Kata Tari kemudian menutup ponselnya.

Rio mengecup kening kekasihnya ketika mereka sudah bertemu di bawah.

“Ngapain kamu malam-malam ke sini?” Tanya Tari penasaran. “ini udah tengah malam lho.” Lanjutnya.
Rio tersenyum. “Aku mampir sebentar. Lagipula, aku juga sedang kangen berat sama kamu.” Ucap Rio seraya membelai wajah Tari.
“Ih, dasar tukang gombal.”
“Serius. Aku kangen.” Sahut Rio dengan tatapan mata yang teduh. Tari tersenyum dan memeluk Rio erat. Tengah malam seperti ini, rasanya memang tidak pantas seorang pria berkunjung ke rumah wanita. Apalagi sambil berpelukan di jalan.
“Cepet pulang ya, jangan ngeluyur lagi. Udah malam nih!” tari mencubit pipi Rio gemas.
“baiklah, Nyonya. Aku akan pulang segera.” Timpal Rio segera mengenakan helmnya dan bersiap memacu motornya. Pertemuan mala mini memang sebentar, tapi sudah cukup mengobati rasa rindu yang Rio rasakan. Begitu pula bagi Tari, pertemuan singkat mala mini terasa sangat manis.
“hati-hati di jalan.” Teriak Tari ketika Rio sudah meluncur dengan motornya. Tari tidak beranjak sebelum Rio hilang di pertigaan ujung sana.