Silent Love Bagian 4

“Semalam Dito datang ke tempatku.” Kata Dinda sembari mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya lalu meletakannya di atas meja. Perpustakaan hari ini tampak sepi pengunjung. Hanya segelintir orang yang datang, termasuk Dinda dan tari yang kini duduk di sebelahnya.

Tari tersenyum. “Ngapain?” Tanya Tari seraya membolak-balik halaman buku yang akan ia baca.
“Semula aku sempat kaget mendengar pengakuannya.” Dinda sengaja ingin membuat Tari penasaran.”

Tari yang tengah membolak-balik halaman buku, menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah Dinda dengan serius. “Emang dia buat pengakuan apa?” Tanya Tari penasaran.

“Ternyata selama ini dia suka sama kamu, Tar.” Kata Dinda dengan wajah serius. “diam-diam dia menunggumu. Hanya saja, dia harus rela patah hati ketika tahu kau malah memilih Rio.”

Tari sedikit terkejut mendengar penuturan Dinda. Ia benar-benar tak meyangka jika ternyata Dito mencintainya. Selama ini, Tari menganggap Dito sebagai sahabatnya, seperti ia menganggap keberadaan Dinda di hidupnya. Ditto selalu ada untuk Dinda begitu pula sebaliknya. Mereka memang saling melengkapi. Tapi Tari, taak pernah melibatkan hatinya untuk persahabatan mereka.

“Aku menganggapnya sebagai sahabat Din, nggak lebih.” Sahut Tari akhirnya. Ia merasa sangat bersalah. Mungkin saat ini Dito sedang terjatuh. Hatinya pasti sakit. Seharusnya ia berada di sisi Dito si saat-saat seperti ini. Tari tahu Dito membutuhkannya. Tapi, Tari tidak bisa begitu saja menemui Dito. Ia harus memikirkan Rio yang selalu semburu setiap kali Tari menyebut nama Dito. Apalagi jika Rio tahu mereka sedang berduaan, pasti Rio sangat marah dan tentunya kecewa.

Dulu, Rio pernah marah dan tidak ingin berbicara dengan Tari sama sekali ketika tahu Dito bertamu ke rumah Tari. Rio cemburu. Rio marah dan tidak ingin Tari dekat-dekat dengan Dito. Meskipun Tari sudah menjelaskan bahwa ia dan Dito hanya sebatas sahabat, Rio tidak ingin mengerti.

Tari sudah tidak konsen lagi membaca. Ia menutup bukunya dan mengelus keningnya. Pikirannya tertuju pada Dito. Semoga Dito bisa menerima semuanya dan tetap bisa menjadi sahabatnya.

“Kamu memang nganggap dia sebagai sahabat. Dia pun juga seperti itu. Tapi namanya cinta, kita tak tahu kapan datangnya kan, Tar.” Jelas Dinda panjang lebar. “Jadi, kamu tidak boleh menyalahkannya juga seandainya dia menyukaimu.”

“Aku nggak pernah nyalahin dia kok, Din. Justru aku merasa bersalah karena nggak bisa berada di dekatnya saat dia membutuhkanku seperti saat ini. Aku yakin dia pasti kecewa. Terluka.” Tukas Tari mengurut keningnya lebih keras.
Kali ini Dinda terdiam. Tidak menimpal apapun dari kalimat Tari.

Pantai Kenjeran memang tidak secantik pantai Kuta atau pantai sanur yang berada di Bali. Pantai kenjeran memiliki pesona tersendiri bagi Dito. Selepas kuliah sore ini, ia berniat untuk datang ke pantai kenjeran. Kedatangannya kali ini hanya sekedar untuk melepas penat. Terlebih melepaskan kegundahan hatinya dari rasa sakit yang masih terasa semenjak Tari memilih pria lain sebagai labuhan hati.

Di pantai yang menghamparkan banyak batuan, Dito melepas kepenatannya. Ia melepas sepatunya dan mengangkat celananya hingga selutut. Air laut yang menyentuh kakinya terasa hingga ke otak. Mendinginkan kepalanya yang akhir-akhir ini selalu terasa panas.

Niatnya datang ke tempat ini, agaknya sedikit terusik. Dari balik bebatuan, jalan setapak yang mengarah ke bangunan Kuis besar itu, tampak sepasang muda-mudi yang ia kenali. Kembali hatinya geram. Penat yang belum hilang, kini menjadi bertumpuk. Ia menangkap bayangan Maudi, cewek sejurusannya yang sedang bermesraan dengan lelaki. Sebenarnya bukan masalah bagi Dito jika Maudi bermesraan dengan siapapun. Hanya saja, kali ini, Dito menangkap dengan kepalanya sendiri seorang Rio menggandeng tangan Maudi. Mereka berdua tampak mesra.

Sialan! Umpat Dito tak bisa menahan amarahnya.

Ia benar-benar tak bisa menahan emosinya. Seandainya Dito tidak menaruh hati sedemikian dalam kepada Tari, mungkin Dito tak akan meributkan kemesraan mereka berdua. Bagi Dito, Rio sudah kelewat batas. Ia mengepalkan tangannya dan menghampiri Rio yang tengah menggandeng mesra tangan Maudi.

“Bajingan awakmu. Rio!” umpat Dito dengan bahasa Jawanya yang kental.
Sebuah tinjuan berhasil ditangkap oleh genggaman tangan Rio. Kepalan tangan Dito meleset. Mungkin ia terlalu emosi.

“Rio, kalau emang kamu niat jalan sama Tari untuk nyakitin dia, mending putusin sekarang juga!” teriak Dito keras. Urat-urat wajahnya tampak keluar. Rahangnya yang tegas dank eras terlihat nyata.

Rio tersenyum. Dan membuang tangan Dito yang menunjuk ke wajahnya. Maudi yang berada di samping Rio kali ini terdiam. Ia tampak ketakutan.

“Aku tahu kok, Dit, kalau kamu suka kan, sama Tari.” Kata Rio tenang. “Cewek seperti Tari tidak boleh dilepaskan begitu saja.”
“Bajingan kamu, Dit!” umpat Dito penuh emosi. “Dan kamu, Di. Tega kamu ya menusuk Tari dari belakang.” Maudi menunduk seolah merasa sangat bersalah.
“jangan libatkan Maudi, Dit. Ini bukan salah dia.” Elak Rio tetap tenang. “Aku sayang Tari, Dit. Aku tidak ingin melepasnya begitu saja. Apalagi melepasnya untukmu.”
Ditto tertawa. “Sayang kamu bilang? Menyayangi dia dengan selalu bermain dengan cewek lain di belakangnya seperti ini?”
“Sudahlah, Dit. Kamu terlalu ikut campur urusanku, Dit.”

Saat itu juga ingin sekali Dito menonjok Rio sekali lagi. Tapi Rio terlanjur menyeret Maudi pergi dan meninggalkan Dito dengan emosi yang tak terlampiaskan. Ditto ingin sekali bertemu dengan Tari dan memberitahu Tari tentang semua ini.