Silent Love Bagian 6

Rio menutupi kepalanya dengan bantal. Ia teringat kejadian di pantai Kenjeran beberapa waktu lalu. Mungkin Dito benar, jika ia mencintai Tari, tidak seharusnya ia bermain dengan cewek-cewek lain selain Tari. Itu akan sangat menyakitkan bagi Tari seandainya Tari mengetahui ini.

Tapi Rio tidak ingin begitu saja melepas Tari untuk Dito. Tari sangat berarti baginya. Ia tidak ingin kehilangan rumah tempat ia kembali yang selalu menyuguhkan kelembutan.

Hanya saja, Rio terlanjur terlalu jauh melangkah. Banyak wanita yang mengelilinginya. Tapi pelan-pelan wanita-wanita itu sudah ia putuskan. Hanya tersisa satu cewek yang membuatnya seperti memiliki beban berat. Maudi. Cewek itu berhasil mengalihkan perhatiannya. Maudi saat ini hamper menggeser posisi Tari di hatinya. Rio tidak ingin itu terjadi. Tari harus tetap berada di hatinya, dan Maudi harus pergi. Tapi, bagaimana mungkin ia begitu saja mengusir Maudi pergi, sedangkan ia pernah mengucap janji untuk memutuskan Tari, agar ia dan Maudi bisa bersama. Berdua.

Rio membalikkan tubuhnya. Kali ini ia menatap atas kamarnya yang putih. Lampu kamar ia matikan. Tersisa temaram. Rio gelisah. Ia tidak kehilangan Tari. Tari begitu berharga di matanya. Jika bersama Maudi ia bisa menemukan kesenangan yang menyudut pada nafsu, bersama Tari ia menemukan keteduhan. Ia menemukan ketulusan, kesetiaan, dan kelembutan. Bersama Tari, Rio benar-benar menemukan cinta, bukan nafsu semata. Sudah seringkali Rio berpetualang dari satu cewek ke cewek lain. Tapi ia tidak menemukan satu cewek pun yang seperti Tari. Yang sanggup membuatnya tertawa lepas. Bersama Tari, ia seolah menemukan dirinya sendiri yang selama ini hilang.

Lampu kamar ia matikan seluruhnya. Gelap. Rio memejamkan mata dan menemukan sebuah kesimpulan. Ia harus memutuskan Maudi. Cewek manja itu harus menyingkir dan tidak boleh menggantikan posisi Tari di hatinya.

Tari berjalan sendirian menuju kantin. Melewati beberapa mahasiswa yang sedang berkumpul di sisian koridor. Ada sesuatu yang membuat Tari tidak nyaman. Ketika tari menyapa mereka dengan ramah dan sopan, mereka seolah menunjukkan ekspresi yang bertolak belakang. Mereka seolah menatap Tari dengan tatapan yang mencemooh. Sesaat tari menganggapnya wajar. Tetapi ketika sampai di kantin, perasaan tidak nyaman itu semakin muncul. Tepat di depan meja tempat ia duduk, sekelompok mahasiswi sedang membicarakannya. Ia mendengar dengan telinganya sendiri bahwa mereka seperti berulang kali menyebut namanya. Dada Tari berdegup kencaang. Perasaan takut menyergap tubuhnya.

“Si Tari, polos-polos gitu ternyata ngga tau malu ya,” ungkap salah seorang temen cewek yang tari kenal. Seketika suara itu membuat Tari shock.
“Bisanya ngerebut cowok orang. Cari cowok sendiri ngga bisa sih!” timpal yang lainnya.

Tari merasa kepalanya mendadak pening. Kalimat-kalimat itu mengiang di telinganya. Ia butuh sandaran. Tari segeraa bangkit dari kursinya dan meninggalkan tempat itu secepatnya. Semua tatapan mata sinis teman-temannya membuat gelisah. Perebut cowok orang? Cowok yang mana? Rio? Dia milikku! Teriak tari dalam hati. Ia ingin bertemu Rio secepatnya.

Di sudut ruang perpustakaan, Tari berkali-kali menelpon Rio tapi tetap tidak diangkat. Ia semakin gelisah. Ia benar-benar merasa tidak nyaman di tempat seperti ini. Di tempat yang semua orang menatapnya dengan penuh kebencian.

Tari memutuskan untuk ke rumah Dinda.

Sesampainya di rumah Dinda, ia segera menumpahkan pelukan kepada Dinda ketika Dinda baru saja membuka pintu untuknya.

“Ada apa, Tar?” Tanya Dinda panic. Mata sahabatnya ini merah, seperti habis menangis.
“Aku takut itu terjadi, Din. Aku takut.” Isak tari tak bisa menahan tangis. Ia benar-benar takut apabila semua yang dikatakan teman-temannya tadi memang benar. Tapi Rio selama ini tak pernah mengatakan apapun. Tiba-tiba saja Tari teringat kata-kata Dito. Dito bilang Rio seringkali keluar dengan cewek lain di luar sana. Tari benar-benar takut. Sembari meraba dadanya dan meremasnya, ia berusaha menenangkan diri dan mengatur napasnya. Ia berusaha tenang.

Dinda menyeretnya memasuki kamar Dinda. Sesampainya di sebuah kamar dengan cat dinding berwarna biru muda itu, Tari mulai menceritakan semuanya. Tentang tatapan mata teman-temannya yang sepertinya jijik melihatnya. Tentang kalimat yang ia dengar di kantin, bahwa ia adalah perebut cowok orang.

“Sebetulnya aku udah denger itu, Tar.” Kata Dinda seraya mengusap kepala Tari yang rebah di pangkuannya. “Tapi aku ngga terlalu peduli. Kupikir mereka dalah kira.”
“Aku percaya Rio bukan orang seperti itu, Din.”
“Tapi masa lalu Rio…” sahut Dinda seolah ingin mengingatkan tari kembali bahwa Rio bukanlah cowok baik-baik.
“Itu masa lalunya, Din. Aku mencintainya saat ini, bukan di masa lalu.” Potong tari cepat.
“kalau begitu, kamu ngomong sama Rio, kabar ini benar apa ngga. Kalau memang salah, silahkan lanjutkan sama Rio.” Kata Dinda, lalu mendesis sebentar. “Tapi seandainya ini semua bener, aku harap, kamu bisa melupakan Rio. Dia benar-benar ngga pantes buatmu, Tar.”

Tari terdiam. Tangan Dinda tetap membelai rambut Tari lembut.

“Aku sahabatmu, Tar. Aku ngga pengen kamu disakiti orang lain.”

Tari lagi-lagi terdiam. Ia merenungi semua kejadian ini. Pelan-pelan, suara rintik hujan mulai terdengar. Memantul dari atas genting kamar Dinda. Hawa semakin dingin. Sedingin hati tari yang menahan gelisah.