Silent Love Bagian 7

Sementara di waktu yang sama di tempat yang berbeda, sepasang muda mudi tampak saling beradu mulut.

“Aku mencintaimu, Rio. Aku ingin kamu!” teriak Maudi lalu membuka pintu mobil dan turun dari sana. Rio ikut menyusul dan mendekati Maudi yang sedang disergap emosi.
“Tapi aku ngga bisa nyembunyiin perselingkuhan ini dari tari, Di. Kita harus putus!” Rio sudah kehabisan cara untuk membuat wanita itu takluk dan tidak ingin melanjutkan hubungannya dengan Maudi lagi.
“Putus? Kamu berani mutusin aku?” Tanya Maudi dengan memicingkan mata. Rio benar-benar hafal betul, wanita yang polos pun bisa saja menjelma menjadi seekor macan buas ketika sedang marah. Seperti saat ini, Maudi yang dikenalnya polos ternyata sangat licik. “Aku bisa saja mencelakai Tari, Rio.”

Ancaman Maudi membuatnya mengurut keningnya berkali-kali. Seharian ini, ia harus berantem dengan cewek ini. “Maksudmu apa? Di antara aku kamu dan tari, kamulah yang jadi pengganggu, kamu harus sadar!” teriak Rio menuding wajah Maudi.

Maudi tertawa sinis. “Kamu yang menjadikanku pengganggu, Rio. Kamu yang menyeretku masuk dalam kehidupanmu. Kamu yang menyeretku masuk dalam kehidupan kalian. Dan sekarang, aku tidak ingin keluar. Apalagi merelakanmu untuk Tari.” Kalimat itu menggema di telinga Rio, “itu gilakk!!!”

Rio benar-benar menyesal. Ia benar-benar takut kehilangan Tari seandainya Tari tahu tentang semua ini. Semula ia ingin belajar melupakan semuanya. Meninggalkan masa lalunya yang selalu dekat dengan cewek-cewek lain. Tapi, bersama Maudi, sepertinya ia salah. Maudi sudah terlanjur mencintainya.

“Tolong, Di. Aku mohon!” pinta Rio, tidak tahu lagi cara apa yang harus ia lakukan agar Maudi meyingkir dari kehidupannya.
“Kamu mencintainya, kan?” Maudi memicingkan mata. “Dan aku mencintaimu, Rio. Sama seperti kamu tidak ingin melepasnya. Aku juga tidak ingin melepasmu!” ucap Maudi lalu pergi meninggalkan Rio, memasuki gerbang rumahnya.

Rio mendesah, ia mengurut keningnya berkali-kali. Jika dulu ia begitu mudah kabur dari kehidupan wanita-wanita yang dekat dengannya, tidak untuk kali ini. Ia merasa kesulitan untuk pergi dari kehidupan Maudi.

Rio mengarahkan mobilnya ke arah rumah Tari. Ia ingin bertemu dengan kekasihnya. Bersama Tari ia menemukan ketenangan.

Sesampainya di depan rumah Tari, ia menelpon Tari dan menyuruhnya turun. Tari melongokkan kepala di jendela kamarnya, lalu berlari menuruni tangga. Menyusul seseorang yang ia cari seharian.

“Rio, aku mencarimu seharian.” Bisik Tari ketika sudah meluruh di dalam pelukan Rio. Rio memeluk erat kekasihnya itu. Betapa ia sangat merasa bersalah. Rio melepaskan pelukannya dan mengelus pipi Tari dengan ibu jarinya.
“Maaf, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Bisik Rio lirih. “Aku kangen kamu, sayang.” lanjut Rio dan kembali memeluk kekasihnya ini.
“Rio!”
“Ya?”
“Mereka bilang, aku perebut cowok orang.” Kata Tari lirih di dalam pelukan Rio.
Rio tertegun. Kembali kepalanya terasa penat.
“Siapa?” Tanya Rio, berpura-pura tidak tahu apa-apa.
“Semua teman-teman di kampus menatapku sinis.”
“Aku Cuma milikmu, Tar. Bukan yang lain.” Jawab Rio, berusaha meyakinkan Tari agar ia tidak merasa terluka. Rio tak bisa membayangkan betapa sakit hatinya Tari ketika tahu bahwa Rio telah melukainya saat ini.
“Berarti mereka salah, kan?”
“Tentu. Jangan dengarkan kata mereka.” Saran Rio, mendekap erat tubuh Tari, merapatkan ke dalam tubuhnya. Perasaan hangat dan nyaman mulai mengaliri seluruh tubuh Rio. Saat-saat seperti inilah yang tidak bisa Rio temukan pada wanita lain selain Tari.

Perjalanan pulang, Rio teringat kata-kata Tari bahwa teman-teman menganggpnya perebut cowok orang. Rio tahu betul siapa yang menyebarkan berita itu. Rio ingat, sewaktu di kampus, ia sempat bertengkar dengan Maudi di dekat lobi. Banyak teman yang menyaksikan pertengkaran mereka.

“Aku ngga peduli, Rio. Bagiku, Tari lah yang merebutmu dariku!” teriak Maudi keras. Teman-teman yang lain yang sebagian besar cewek sontak merasa sangat kaget.
“Maudi, tolong hentikan! Diamlah!” Rio melunak dan menarik tangan Maudi untuk memasuki mobil. Tapi Maudi menolak dan semakin menjadi-jadi.
“Dia itu ngga pantes buat kamu, Rio. Cuma aku yang pantes dan bisa bahagiain kamu!”
“Diamlah, Di. Aku akan mengantarkanmu pulang!” Rio langsung menarik tangan Maudi kembali tanpa ampun. Dia harus segera menyinhkirkan Maudi dari sana sebelum Tari tahu tentang semua itu. Tari mungkin memang tak pernah tahu, tapi teman-teman yang memperhatikan pertengkaran mereka pasti sudah menganggap bahwa Tari lah yang menjadi pihak ketiga. Ah, sialan! Umpat Rio kesal.